ReadJilid 1 from the story Serial Bu Kek Siansu (Manusia Setengah Dewa) - Asmaraman S. Kho Ping Hoo by JadeLiong (Jade) with 9,743 reads. bukeksiansu, kungfu Danitulah meditasi mata ketiga. Mata ketiga adalah cakra ajna, adanya di tubuh etherik manusia. Di tubuh etherik kita. Secara fisik, cakra ajna atau mata ketiga adalah kelenjar pineal yg letaknya di tengah batok kepala kita. Untuk merasakannya cukup duduk diam, dan rasakan kesadaran kita yg berada di kepala itu. resensicerita silat november 2007, dunia kang ouw sd liong san djin liong, 04 januari 2010 koleksi e book dan software, paijonice to liong to pedang langit dan 1 20 buku karangan aryani 1 si manusia besi 1 16 2 iblis hitam mengguncang dunia 1 26 buku karangan batara 1 kisah seekor naga 1 22 2 pendekar gurun neraka 1 20 3 201610 09. AHAD 9 OKTOBER 2016 | 8. MUHARAM 1438 | 36 HALAMAN. ECERAN Rp4.500 LANGGANAN Rp120.000 (Luar Kota Tambah Ongkos Kirim) 350 Pelajar Penerima Beasiswa ke Cina dan Taiwan SURABAYA (RP PENCAKSILAT Kuda. Cerita Silat Manusia Setengah Dewa eps 5 Bersosial com. ILMU JURUS DAN KITAB YANG DIKENAL GERBANG NAGA HARIMAU. Sejarah Akan Terus Jadi Inspirasi Silat China. GERBANG NAGA HARIMAU Jurus Rapalan 6 Dewa. Pencak Silat Seni Bela Diri Indonesia yang Mendunia No. eMZy s Blog Jurus Dewa Mabok mas zacky blogspot com. Cerita Silat 1 / 25 InformasiTeknologi Paling Update. China sedang bersiap untuk mengambil sampel dari Mars, berhasil melampaui NASA dan ESA SERIDINASTI TANG : 01. Pendekar Aneh – Liang Ie Shen – BBT. 02. Kisah Bangsa Petualang – Liang Ie Shen – OKT. 03. Tusuk Kondai Pusaka – Liang Ie Shen – NN. 04. Jiwa Kesatria – Liang Ie Shen – Gan KL. Salahsatu faktor yang membuat kinerja Inhutani 1 lebih baik dari Inhutani lainnya, adalah kebocoran yang minim. Inhutani 1 juga memiliki variasi unit komoditas yang banyak, yang menjadi sumber pendanaan perusahaan. Laba setiap unit komoditas cenderung optimal, biaya terkendali, sehingga perusahaan tetap dalam kondisi sehat. 1Kalingga 2 Mataram Lawas 2.1 Wangsa Syailendra 2.2 Wangsa Sanjaya 3 Medang 4 Kahuripan 4.1 Janggala 4.2 Kadiri 5 Singhasari 6 Majapahit 7 Demak 8 Kalinyamat 9 Kerajaan Pajang 10 Mataram Baru 10.1 Kasunanan Kartasura 10.2 Kasunanan Surakarta 10.3 Kasultanan Yogyakarta 10.4 Praja Mangkunagaran di Surakarta 10.5 Kadipaten Paku Alaman di HARIMAUJurus Rapalan 6 Dewa. Tapak Dewa Naga 1 Baca Novel Silat Online Gratis. Gambar Jurus Pencak Silat Tapak Suci. Cerita Silat Manusia Setengah Dewa eps 12 Bersosial com. Artikel Olahraga Pencat Silat. ILMU JURUS DAN KITAB YANG DIKENAL GERBANG NAGA HARIMAU. Cerita Silat Karya Chin Yung dan Khu Lung Cerita Silat. Teknik Dasar Pencak Silat Majapahitadlah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yg pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk yg berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. BuKek Siansu (Manusia Setengah Dewa), Bab 1 Sin-Tong Pagi itu bukan main indahnya di dalam hutan di lereng Pegunungan Jeng Hoa San (Gunung Seribu Bunga). Matahari muda memuntahkan cahayanya yang kuning keemasan ke permukaan bumi, menghidupkan kembali rumput-rumput yang hampir lumpuh oleh embun, pohon-pohon yang lenyap ditelan SilatPukulan Tapak Dewa cerita silat pedang awan putih setiawanli blogspot com. tapak suci sembilan dewa website resmi perguruan. dunia kang ouw pukulan tangan dewa. resensi cerita silat 20 cersil yang menarik. kunci ilmu pencak silat batin jurus ghaib indo ghaib. asal mula pencak silat silat. cerita silat manusia setengah dewa eps 5 CeritaSilat Manusia Setengah Dewa eps 12 Bersosial com. Legenda Tapak Budha Bacaan bagi penggemar silat. 8 Jurus “Ngawur‚ dan Paling Ikonik dari Wiro Sableng. Cerita silat pedang awan putih setiawanli blogspot 2 / 54. com. Cersil Pendekar Naga Raja Naga Cerita Silat Mandarin. DUNIA Disisi selatan aula utama, di sebuah tanah lapang yang luas, tampak manusia berjejal amat ramai, mereka datang untuk menyaksikan upacara tarian memuja dewa yang segera akan dilakukan pengikut agama Lhama. Sekeliling tanah lapang itu bertebar bangunan kuil berwarna kuning emas, kawanan lautan manusia itu nyaris mengelilingi seluruh halaman kuil. DvLH. dan apakah Locianpwe sekarang sedang menuju ke hutan itu?" Mulai berubah wajah kakek itu mendengar ucapan ini, senyumnya masih ada akan tetapi sepasang matanya yang tadinya berseri gembira itu kehilangan cahaya kegembiraannya dan berubah dengan sinar kilat yang mengejutkan mereka semua. "Hemmm, orang-orang muda yang lancang. Kalau benar aku hendak pergi mengunjungi Sin-tong, kalian mau apakah?" Tiga belas orang anak murid Bu-tong-pai itu sudah dapat "Mencium" keadaan yang membuat mereka semua siap siaga. Mereka melihat bahwa kakek yang kelihatannya halus budi itu dan ramah ini mulai memperlihatkan "tanduknya" atau watak sesungguhnya. "Locianpwe, kalau benar demikian, kami hanya mohon kepada Locianpwe agar tidak mengganggu Sin-tong." "Apamukah bocah itu?" "Bukan apa-apa, Locianpwe. Namun mendengar betapa anak ajaib itu telah banyak menolong orang tanpa pandang bulu tanpa pamrih, maka sudahlah menjadi kewajiban semua orang gagah di dunia kang-ouw untuk menjaga kesel amatannya.".Perubahan hebat pada diri kakek itu. Kini senyumnya bahkan lenyap dan mulutnya menyeringai penuh sikap mengejek, matanya berkilat-kilat dan suaranya berubah kaku, ketus dan memandang rendah. "Anak-anak kurang ajar Apakah Si Tua Bangka Kui Bho Sanjin yang mengutus kalian?" "Guru kami tidak tahu-menahu tentang ini. Kami kebetulan berada di daerah ini dan mendengar akan Sin-tong yang terancam bahaya, maka kami melihat Locianpwe lalu sengaja hendak bertanya. Tentu saja kalau Locianpwe tidak menghendaki Sin-tong, kami pun sama sekali tidak kurang ajar dan kami mohon maaf sebanyaknya." "Aku memang menuju ke Hutan Seribu Bunga. Mengapa kalian menyangka bahwa aku akan mencelakai Sin-tong?" Tiga belas pendekar Bu-tong-pai itu makin tegang. Kakek ini sudah mulai berterus terang, maka tiada salahnya kalau mereka bersikap waspada dan berterus terang pula. "Siapa yang tidak mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong sedang menyempurnakan ilmu iblis yang disebut Hiat-ciang-hoat-sut Ilmu Hitam Tangan Darah?" Tiba-tiba Kwat Lin berseru sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek itu. Para suhengnya terkejut, akan tetapi ucapan telah terlanjur dikeluarkan dan memang dalam hati mereka terkandung tuduhan ini. Ilmu Hiat-ciang hoat-sut adalah semacam ilmu hitam yang hanya dapat dipelajari oleh kaum sesat karena ilmu ini membutuhkan syarat yang amat keji, yaitu menghimpun kekuatan hitam dengan jalan menghisap dan minum darah, otak dan sumsum anak-anak yang masih bersih darahnya Tentu saja bagi seorang yang sedang menyempurnakan ilmu iblis ini, Sin-tong mempunyai daya tarik yang luar biasa, karena darah, otak dan sumsum seorang bocah seperti Sin-tong yang ajaib, lebih berharga dari darah, otak dan sumsum puluhan orang bocah biasa lainnya. Tiba-tiba kakek itu tertawa lebar. Hah-hah-hah-hah, memang benar Dan satu-satunya bocah yang akan menyempurnakan ilmuku itu adalah Sin-tong Dan aku bukan hanya suka minum dan menghisap darah, otak dan sumsum bocah yang bersih, juga aku bukannya tidak suka bersenang-senang dengan perawan cantik seperti engkau, Nona" "Singggg Singggg..." Tampak sinar-sinar berkilauan ketika pedang yang tiga belas buah banyaknya itu bergerak secara berbarengan dan tiga belas orang pendekar itu telah mengurung si Kakek yang masih tertawa-tawa. "Heh-heh, kalian mau coba-coba main-main dengan Pat-jiu Kai-ong? Sayang kalian masih muda-muda harus mati, kecuali Nona manis. Andaikata Si Tua Bangka Kui Bhok Sanjin berada disini sekalipun, dia juga tentu akan mampus kalau berani menentang Pat-jiu Kai-ong" "Serbu dan basmi iblis ini" Twa-suheng itu berteriak dan mereka sudah menerjang maju dengan bermacam gerakan yang cepat dan dahsyat. Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara pekik yang dahsyat, pekik yang disusul dengan suara tertawa menyeramkan. Suara ketawa ini bergema di seluruh hutan, sehingga terdengar suara ketawa menjawabnya dari semua penjuru, seolah-olah semua setan dan iblis penjaga hutan telah datang oleh panggilan kakek itu. Hebatnya, suara pekik dan tertawa itu membuat tiga belas orang pendekar itu seketika seperti berubah menjadi arca, gerakan mereka terhenti dan untuk beberapa detik mereka hanya bengong memandang kakek itu dan jantung mereka seolah-olah berhenti berdenyut. Twa-suheng mereka yang bermuka gagah perkasa itu segera berseru, "Awas. Saicu-hokang Ilmu menggereng seperti singa berdasarkan khikang" Seruan ini menyadarkan para sutenya dan sumoinya. Mereka cepat mengerahkan sinking sehingga pengaruh Saicu-hokang itu membuyar. Pedang mereka melanjutkan gerakannya. "Sing-sing.... siuuuut.... trang-trang-trang..Heh-heh-heh".Gulungan sinar pedang-pedang yang menyambar ke arah tubuh kakek dari berbagai jurusan, dapat ditangkis oleh gulungan sinar tongkat hitam yang telah diputar dengan cepatnya oleh Pat-jiu kai-ong. Para pendekar Bu-tong-pai itu terkejut ketika merasakan betapa telapak tangan mereka menjadi panas dan nyeri setiap kali pedang mereka tertangkis tongkat. Hal ini menandakan bahwa Si kakek benar-benar amat lihai dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat. Juga tongkatnya yang kelihatan butut dan hitam itu ternyata terbuat dari logam pilihan sehingga mampu menahan ketajaman pedang di tangan mereka, padahal semua pedang di tangan Cap-sha Sin-hiap adalah pedang-pedang pusaka yang ampuh. "Ha..ha..ha, inikah Ngo-heng-kiam Ilmu Pedang Lima Unsur dari Bu-tong-pai yang terkenal? Ha..ha, tidak seberapa" Sambil menggerakan tongkatnya menangkis setiap sinar pedang yang meluncur datang, kakek itu tertawa dan mengejek. "Bentuk Sin-kiam-tin Barisan Pedang Sakti" Teriak si Twa-suheng melihat betapa kakek itu benar-benar amat tangguh sehingga semua serangan pedang mereka dapat ditangkis dengan mudahnya. Tiba-tiba tiga belas orang pendekar itu merobah gerakan mereka, kini mereka tidak lagi menyerang dari kedudukan tertentu, melainkan mereka bergerak mengurung dan mengelilingi kakek itu, sambil bergerak berkeliling mereka menyusun serangan berantai yang susul menyusul dan yang datangnya dari arah yang tidak tertentu. Diam-diam kakek itu terkejut. Sejenak dia menjadi bingung. Kalau tadi mereka itu menyerangnya dari kedudukan tertentu, biarpun gerak an mereka tadi berdasarkan Ngo-heng-kiam, namun dia sudah dapat mengenal dasar Ngo-heng-kiam dan dapat menggerakan tongkat secara otomatis untuk menangkis semua pedang yang dating menyambar. Akan tetapi sekarang, sukar sekali menentukan dari mana serangan akan dating, dan gerakan mengelilinginya itu benar-benar mendatangkan rasa pusing. Marahlah Pat-jiu Kai-ong. Tadi dia ingin mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai dan memperhatikan para pengeroyoknya sebelum membunuh mereka. Akan tetapi setelah mereka menggunakan Sin-kiam-tin dia tahu behwa mereka kalau dia tidak cepat mendahului mereka, dia bisa terancam bahaya. Tidak disangkanya bahwa Si Tua Bangka Kui Bhok San-jin, ketua dari Bu-tong-pai dapat menciptakan barisan pedang yang demikian lihainya. Tiba-tiba terjadi perubahan pada diri kakek ini. Tangan kirinya berubah menjadi merah sekali, merah darah "Hati-hati terhadap Hiat-ciang Hoat-sut" Si Twa-suheng berseru keras ketika melihat perubahan warna tangan kiri kakek itu. Pat-jiu Kai-ong tiba-tiba mengeluarkan pe kik yang amat dahsyat, lebih dahsyat daripada tadi dan tubuhnya mendadak membalik, tongkatnya menyamb ar dibarengi tangan kiri merah itu mendorong ke depan. "Prak-prak...dessss" Tiga orang pengeroyok menjerit da n roboh, dua orang dengan kepala pecah oleh tongkat, sedangkan seorang lagi terkena pukulan jarak jauh Hia t-ciang Hoat-sut, roboh dan tewas seketika dengan dad anya tampak ada bekas lima jari merah seperti terbak ar, bahkan bajunya robek dan hangus. Itulah Hiat-ciang Hoat-sut, pukulan maut yang mengerikan. Padahal ilmu itu masih belum sempurna, dapat dibayangkan betapa hebatnya kalau kakek ini berhasil menghisap darah, otak dan sumsum seorang bocah ajaib seperti Sin-tong. Sepuluh orang pendekar Bu-tong-pai terkejut dan marah sekali. Mereka melanjutkan serangan dengan penuh semangat dan penuh dendam. Namun kembali Pat-jiu Kai-ong memekik dahsyat sambil bergerak menyerang, dan kembali tiga orang lawan roboh dan tewas. Serangan ini diulanginya terus, tidak memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya un tuk membebaskan diri. Empat kali terdengar dia meme kik dahsyat seperti itu dan akibatnya, dua belas orang diantara Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai itu tewas se mua, tewas dalam keadaan masih menggurungnya dan yang masih hidup tinggal The Kwat Hal ini memang disengaja oleh Pat-jiu Kai-ong dan kini sambil tersenyum mengejek dia menghadapi Kwat Lin. Dapat dibayangkan betapa perasaan dara itu melihat dua belas orang suhengnya telah tewas semua Dua belas orang suhengnya yang selama ini berjuang sehidup semati dengannya, kini telah menjadi mayat yang bergelimpangan di sekelilingnya, seolah-olah mayat dua belas orang itu mengurung dia dan Pat-jiu Kai-ong yang berdiri tersenyum di depannya. "Iblis busuk, aku akan mengadu nyawa denganmu" Kwat Lin berseru mengandung isak tertahan. "Hai i t....." tubuhnya melayang ke depan, pedangnya ditusukkan ke arah dada lawan dengan kebencian meluap-luap. Namun dengan gerakan seenaknya kakek itu memukulkan tongkatnya dari samping menghantam pedang yang menusuknya. "Krekkk" Pedang itu patah dan gagangnya terlepas dari pegangan Kwat Lin Dara itu membelalakan matanya dan melihat pandang mata kakek itu kepadanya, melihat senyum yang baginya amat mengerikan itu, tiba-tiba dia membalikan tubuhnya dan melayang ke arah sebatang pohon besar, dengan niat untuk membenturkan kepalanya pecah pada batang pohon itu Kwat Lin melihat ancaman bahaya yang lebih mengerikan daripada maut sendiri, maka setelah yakin bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya, dia mengambil keputusan ne kat untuk membunuh diri dengan membenturkan kepal anya pada batang pohon. "Bukkkkkk" Bukan batang po hon yang dibentur kepalanya, melainkan perut lunak da n tubuhnya berada dalam pelukan Pat-jiu Kai-ong yang entah kapan telah berada di situ menghadangnya di de pan pohon "Lepaskan aku" Kwat Lin berteriak dan tubu hnya tiba-tiba dilontarkan oleh kakek itu, jauh kembali ke dalam lingkaran mayat-mayat suhengnya. Dengan l angkah gontai, kakek itu tersenyum-senyum memasuki lingkaran dan melangkahi mayat bekas para penggero yoknya, menghampiri Kwat Lin yang sudah bangkit dud uk dengan muka pucat dan mata terbelalak. Dia telah t ersudut seperti seekor kelinci muda ketakutan Share This Page terjadi, keluar dari dalam, mukanya penuh darah, kedua tangannya dan pakaiannya juga. Dia melangkah keluar seperti dalam mimpi, mukanya pucat sekali dan matanya yang lebar itu terbelalak memandang penuh berdiri di depan pintu rumahnya, matanya makin terbelalak memandang apa yang terjadi di depan rumahnya. Jelas tampak olehnya betapa para tetangganya itu, seperti sekumpulan serigala buas, menyerang dan memukuli tiga orang pencuri tadi, para pembunuh ayah-bundanya. Terdengar olehnya betapa pencuri-pencuri itu mengaduh-aduh merintih-rintih, minta-minta ampun dan terdengar pula suara bak-bik-buk ketika kaki tangan dan senjata menghantami mereka. Mereka bertiga itu roboh, dan terus digebuki, dibacok, dihantam dan darah muncrat- muncrat., tubuh tiga orang itu berkelojotan, suara yang aneh keluar dari tenggorokan mereka. Akan tetapi orang-orang yang marah dan haus darah itu, yang menganggap bahwa apa yang mereka lakukan ini sudah baik dan adil, terus saja menghantami tiga orang manusia sial itu sampai tubuh mereka remuk dan tidak tampak seperti tubuh manusia lagi, patutnya hanya onggokan-onggokan daging hancur dan tulang- tulang patah. Ketika semua orang sudah merasa puas, juga mulai ngeri melihat hasil perbuatan mereka, menghentikan pengeroyokan terhadap tiga mayat itu dan mereka memasuki rumah keluarga Kwa, Sin Liong tidak berada disitu Kiranya bocah ini, yang baru saja tergetar jiwanya, tergores penuh luka melihat ayah bundanya dibacoki dan dibunuh, ketika melihat tiga orang pembunuh itu dikeroyok dan disiksa, jiwanya makin terhimpit, luka-luka dihatinya makin banyak dan dia tidak kuat menahan lagi. Dilihatnya wajah orang-orang itu semua seperti wajah iblis, dengan mata bernyala-nyalapenuh kebencian dan dendam, penuh nafsu membunuh, dengan mulut terngangga seolah-olah tampak taring dan gigi meruncing, siap untuk menggigit lawan dan menghisap darahnya. Dia merasa ngeri, merasa seolah-olah tampak taring dan gigi meruncing, siap untuk menggigit lawan dan menghisap darahnya. Dia merasa ngeri, merasa seolah-olah berada di antara sekumpulan iblis, maka sambil menangis tersedu- sedu Sin liong lalu lari meninggalkan tempat itu, meninggalkan rumahnya, meninggalkan kota Kun-leng, terus berlari ke arah pegunungan yang tampak dari jauh seperti seorang manusia sedang rebahan, seorang manusia dewa yang sakti, yang akan melindunginya dari kejaran iblis itu Seperti orang kehilangan ingatan, semalam itu Sin lIong terus berlari sampai pada keesokan harinya, saking lelahnya, dia tersaruk-saruk di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, kadang-kadang tersandung kakinya dan jatuh menelungkup, bangun lagi dan lari pagi, terhuyung-huyung dan akhirnya, pada keesokan harinya, pagi-pagi dia terguling roboh pingsan di dalam sebuah hutan di lereng bagian bawah Pegunungan Jeng-hoa- san..Setelah siuman, anak kecil berusia lima tahun ini melanjutkan perjalanannya, dan beberapa hari kemudian tibalah dia di sebuah hutan penuh bunga karena kebetulan pada waktu itu adalah musim semi. Di sepanjang jalan mendaki pegunungan, kalau perutnya sudah mulai lapar, anak ini memetik buah-buahan dan makan daun-daunan, memilih yang rasanya segar dan tidak pahit sehingga dia tidak sampai kelaparan. Di dalam hutan seribu bunga itu Sin Liong terpesona, merasa seperti hidup di alam lain, di dunia lain. Tempat yang hening dan bersih, tidak ada seorang pun manusia. Kalau dia teringat akan manusia, dia bergidik dan menangis saking takut dan ngerinya. Dia telah menyaksikan kekejaman-kekejaman yang amat hebat. Bukan hanya kekejaman orang-orang yang merenggut nyawa ayah bundanya, yang memaksa ayah bundanya berpisah darinya dan mati meninggalkannya, akan tetapi juga melihat kekejaman puluhan orang tetangga yang menyiksa tiga orang itu sampai mati dan hancur tubuhnya, Dia bergidik dan ketakutan kalau teringat akan hal itu. Di dalam Hutan Seribu Bunga itulah dia merasakan keamanan, kebersihan, keheningan yang menyejukkan perasaan. Mula-mula Sin Liong tidak mempunyai niat untuk kembali ke kotanya karena ia masih terasa ngeri, tidak ingin melihat ayah bundanya yang berlumuran darah, tak ingin melihat mayat tiga orang pencuri yang rusak hancur. Ketika dia tiba di hutan Jeng-hoa-san itu dan melihat betapa tubuh dan pakaiannya ternoda darah yang baunya amat busuk, dia cepat mandi dan mencuci pakaian di anak sungai yang terdapat di hutan itu, anak sungai yang airnya keluar dari sumber, jernih dan sejuk sekali. Mula-mula memang dia tidak ingin pulang karena kengerian hatinya, akan tetapi setelah dua tiga bulan "Bersembunyi" di tempat itu, timbul rasa cintanya terhadap Hutan Seribu Bunga dan dia kini tidak ingin pulang sama sekali karena dia telah menganggap hutan itu sebagai tempat tinggalnya yang baru Di dekat pohon peak yang besar, terdapat bukit batu dan di situ ada guanya yang cukup besar untuk dijadikan tempat tinggal, dijadikan tempat berlindung dari serangan hujan dan angin. Gua ini dibersihkannya dan menjadi sebuah tempat yang amat menyenangkan. Demikianlah, anak ini tidak tahu sama sekali bahwa harta kekayaan orang tuanya yang tidak mempunyai keluarga dan sanak kadang lainnya, telah dijadikan perebutan antara para tetangga sampai habis ludes sama sekali Dengan alas an "mengamankan" barang-barang berharga dari rumah kosong itu, para tetangga telah memperkaya diri sendiri. Mereka ini tetap tidak tahu, atau tidak mengerti bahwa mereka telah mengulangi perbuatan tiga orang pencuri yang mereka keroyok dan bunuh bersama itu. Mereka juga melakukan pencurian, sungguhpun caranya tidak "sekasar" yang dilakukan para pencuri. Jika dinilai, pencurian yang dilakukan para tetangga dan "sahabat" ini jauh lebih kotor dan rendah daripada yang dilakukan oleh tiga orang pencuri dahulu itu, karena para pencuri itu melakukan pencurian dengan sengaja dan terang- terangan mereka itu adalah pencuri, tidak berselubung apa-apa, dan kejahatannya itu memang terbuka, sebagai orang-orang yang mengambil barang orang lain di waktu Si Pemilik sedang lengah atau tertidur. Namun, apa yang dilakukan oleh para tetangga itu adalah pencurian terselubung, dengan kedok "menolong" sehingga kalau dibuat takaran, kejahatan mereka itu berganda, pertama jahat seperti Si Pencuri biasa karena mengambil dan menghaki milik orang lain, ke dua jahat karena telah bersikap munafik, melakukan kejahatan dengan selubung "kebaikan". Demikianlah sampai dua tahun lamanya anak berusia lima tahun ini tinggal seorang diri di dalam Hutan Seribu Bunga. Sebagai putera seorang ahli pengobatan, biarpun ketika usianya baru lima tahun, sedikit banyak Sin Liong tahu akan daun- daun dan akar obat, bahkan sering dia ikut ayahnya mencari daun-daun obat di gunung- gunung. Setelah kini dia hidup seorang diri di dalam hutan, bakatnya akan ilmu pengobatan mendapat ujian dan pemupukan secara alam. Dia harus makan setiap hari itu untuk keperluan ini, dia telah pandai memilih dari pengalaman, mana daun yang berkhasiat dan mana yang enak, mana pula yang beracun dan sebagainya. Selama dua tahun itu, dengan pakaian cabik-cabik tidak karuan, sering pula dia terserang sakit dan dari pengalaman ini pula dia terserang sakit dan dari pengalaman ini pula dia dapat memilih daun- daun dan akar-akar obat, bukan dari pengetahuan, melainkan dari pengalaman. Mungkin karena tidak ada sesuatu lainnya yang menjadikan bahan pemikiran, maka anak ini dapat mencurahkan semua perhatiannya terhadap pengenalan akan daun dan akar serta buah dan kembang yang mangandung obat ini sehingga penciumannya amat tajam terhadap khasiat daun dan akar obat. Dengan menciumnya saja dia dapat menentukan khasiat apakah yang terkandung dalam suatu daun, bunga, buah ataupun akar Tidak kelirulah kata-kata orang bahwa pengalaman adalah guru terpandai. Tentu saja kata-kata itu baru kalau seseorang memiliki rasa kasih terhadap yang dilakukannya itu. Dan memang di lubuk hati Sin Liong, dia mempunyai rasa kasih yang menimbulkan suka, dan suka ini menimbulkan kerajinan untuk mempelajari khasiat bunga-bunga dan daun-daun yang banyak sekali macamnya dan tumbuh di dalam Hutan Seribu Bunga itu. Selain mempelajari khasiat tumbuh-tumbuhan, bukan hanya untuk menjadi makanan sehari- hari akan tetapi juga untuk pengobatan, Sin Liong mempunyai kesukaan lain lagi yang timbul dari rasa kasihnya kepada alam, kasih yang sepenuhnya dan yang mungkin sekali timbul karena dia merasa hidup sebatangkara dan juga timbul karena melihat kekejaman yang menggores di kalbunya akan perbuatan manusia ketika ayah ibunya dan tiga orang pencuri itu tewas. Di tempat itu dia melihat kedamaian yang murni, kewajaran yang indah, dan tidak pernah melihat kepalsuan-kepalsuan, tidak melihat kekejaman. Rasa kasih kepada alam ini membuat dia amat peka terhadap keadaan sekelilingnya, membuat perasaannya tajam sekali sehingga dia dapat merasakan betapa hangat dan nikmatnya sinar matahari pagi, betapa lembut dan sejuk segarnya sinar bulan purnama sehingga tanpa ada yang memberi tahu dan menyuruh hampir setiap pagi dia bertelanjang mandi cahaya matahari pagi dan setiap bulan purnama dia bertelanjang mandi sinar bulan purnama. Tanpa disadarinya, tubuhnya telah menerima dan menyerap inti tenaga mujijat dari bulan dan matahari, dan membuat darahnya bersih, tulangnya kuat dan tenaga dalam di tubuhnya makin terkumpul di luar kesadarannya. Setelah keringat membasahi seluruh tubuh dan beberapa kali memutar tubuhnya yang duduk bersila di atas batu, kadang-kadang dadanya, Sin Liong turun dari batu itu, menghapus peluh dengan saputangan lebar, kemudian setelah tubuhnya tidak berkeringat lagi, setelah dibelai bersilirnya angin pagi, dia mengenakan lagi pakaiannya dan pergi mengeluarkan bunga, daun, buah dan akar obat dari dalam gua untuk dijemur dibawah sinar matahari. Inilah yang menjadi pekerjaannya sehari-hari, selain mencangkok, memperbanyak dan menanam tanaman-tanaman yang berkhasiat. Menjelang tengah hari, mulailah berdatangan penduduk yang membutuhkan obat. Di antara mereka terdapat pula beberapa orang kang-ouw yang kasar dan menderita luka beracun dalam pertempuran. Untuk mereka semua, tanpa pandang bulu, Sin Liong memberikan obatnya setelah memeriksa luka-luka dan penyakit yang mereka derita. Lebih dari lima belas orang datang berturut-turut minta obat dan yang datang terakhir adalah seorang laki-laki setengah tua bertubuh tinggi besar, dipunggungnya tergantung golok dan dia datang terpincang-pincang karena pahanya terluka hebat, luka yang membengkak dan menghitam. "Sin-tong, kau tolonglah aku..." Begitu tiba di depan gua dimana Sin Liong duduk dan memotong-motong akar basah dengan sebuah pisau kecil, laki-laki bermuka hitam dan bertubuh Share This Page Kwa Sin Liong Naga Sakti adalah anak tunggal dari keluarga Kwa, seorang pedagang obat terkenal di kota Kun Leng, sebelah timur Pegunungan Jeng Hoa San. Dikisahkan pada suatu malam rumahnya disatroni 3 orang pencuri yang kemudian membunuh Ayah Ibunya dengan bacokan golok. Pada saat itu umur Sin Liong lima tahun. Ketiga pencuri itu kemudian tertangkap dan dibantai oleh para tetangganya yang gemas karena telah dengan kejam membunuh keluarga Kwa. Semua kejadian itu; pembunuhan Ayah Ibunya dan pembantaian ketiga pencuri disaksikan Kwa Sin Liong dengan mata kepalanya sendiri sehingga membuatnya ngeri. Dia kemudian lari dari rumahnya dan sampai ke gunung Jeng Hoa San atau Gunung seribu bunga. Karena merasa nyaman dia menetap di gunung tersebut sampai 2 tahun lamanya dan belajar obat-obatan. Karena kepandaiannya dalam hal pengobatan dia kemudian mendapat julukan Sin Tong atau anak ajaib dari warga belajar pengobatan, kebiasaannya menjemur diri di sinar matahari pagi dan di bawah terang bulan purnama membuatnya memiliki tulang kuat dan darah yang bersih. Kenyataan ini menarik minat kaum datuk persilatan untuk mengangkatnya menjadi murid. Perebutan atas diri Sin Liong akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Han Ti Ong, seorang sakti keturunan raja yang bertempat tinggal di sebuah tempat yang mendekati dongeng di laut utara, yang dikenal di kalangan kangouw sungai-telaga dengan nama Pulau Sin Liong pada usia muda sudah berhasil memecahkan intisari dari bela diri dan kemudian juga mewarisi kemampuan menirukan serta mengetahui kelemahan ilmu orang lain dalam sekali lihat dari suhunya Pangeran Han Ti Ong, penguasa Pulau Es. Kwa Sin Liong menjadi pewaris Pulau Es, setelah kerajaan yang dipimpin Han Ti Ong musnah diterjang banjir besar. Karena kemampuan silat dan filsafatnya yang tak terukur nalar, dia kemudian dijuluki Bu Kek Siansu dan dilegendakan sebagai manusia setengah Kek Siansu mempunyai kebiasaan menurunkan satu jenis ilmu silat setiap awal musim semi, tanpa membedakan siapapun yang beruntung mendapat petunjuknya, sesat atau lurus. Namun secara resmi Bu Kek Siansu hanya mempunyai tiga orang murid, yakni Kwee Seng, Kam Bu Song dan Kam Han Ki. Tokoh lain yang beruntung mendapat petunjuk darinya meski tidak secara langsung ada juga seperti Maya dan Khu Siauw Bwee. Tokoh legenda ini terakhir kali muncul di kangouw pada episode Istana Pulau Es. Cerita Silat Bergambar Ganes Th Si Buta dari Gua Hantu 1 Si Buta dari Gua Hantu 2 Misteri Borobudur 1 Misteri Borobudur 2 Sibuta contra Sibuta Tuan Tanah Kedawung Yanes – KPH PukulanTanganDewa02 , PukulanTanganDewa01 Seri Reo Manusia Serigala Reo Manusia Serigala Kontra Serigala Hantu Seri Nilam Dan Kesumah Nilam dan Kesumah 1 Nilam dan Kesumah 2 Nilam dan Kesumah 3 Seri Taufan Taufan 1, 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7 , 8 , 9 , 10 , 11 , 12, 13 tamat Karya Djair Bajing Ireng Sang Saka Berlumur Darah Karya Yanes Rahasia Telaga Siluman Karya Hans Seri Panji Tengkorak Panji Tengkorak Dewi Bunga Alas Purba Duel Diatas Darah & Karang Pulau Tiga Iblis Karya Teguh Santosa Dewi Surati Joko Tole Karya Absony Seri Perawan Liar Perawan Liar 1, selanjutnya 2, 3, 4, 5 Mencari Golok Warisan 1, 2, 3 Seri Mahesa Jenar Sang Pembela Mahesa Jenar Sang Pembela 1, selanjutnya 2 , 3 ,4 ,5 , 6 , 7 , 8 , 9 , 10, 11 ,12 , 13 , 14, 15,16 , Seri Anak Kuburan Anak Kuburan 1, selanjutnya 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 Karya YUS Nyai Dasima 1 Nyai Dasima 2 Karya Jan Mintaraga Begawa Kasisapa Bangsacara dan Raga Padmi Karya HAR Seri Ganjar Wasiat Berdarah 1 Wasiat Berdarah 2 Cerita Wayang Mahabarata Mahabarata 1 , Mahabarata 2 ,Mahabarata 3, Mahabarata 4, Mahabarata 5, Mahabarata 6, Mahabarata 7, Mahabarata 8, Mahabarata 9, Mahabarata 10, Mahabarata 11,Mahabarata 12 Ramayana Ramayana 1, Ramayana 2, Ramayana 3, Ramayana 4, Ramayana 5, Ramayana 6,Ramayana 7, Ramayana 8, Ramayana 9, Ramayana 10, Ramayana 11, Ramayana 12,Ramayana 13, Ramayana 14, Ramayana 15, Ramayana 16, Ramayana 17, Ramayana 18,Ramayana 19, Ramayana 20 , Ramayana 21, Ramayana 22, Ramayana 23 Tammat Wayang Purwa Wayang Purwa 1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7 , 8

cerita silat manusia setengah dewa eps 1